BANTEN, NEWSHUNTERS – Aksi dan unjuk rasa mahasiswa sebagai kesadaran untuk membangun bangsa dan negara yang lebih baik pada masa depan yang lebih manusiawi dan lebih religius dalam dimensi spiritual yang bersifat universal, sehingga lebih beradab.
Dalam rangkaian regenerasi ini keutamaan soal pendidikan dapat dipahami dalam satu rangkaian pendidikan yang berkelanjutan mulai dari jaminan gizi hingga fasilitas dan peluang untuk mengembangkan diri tidak hanya lewat sekolah – pelatihan dan kajian – harus dan patut mendapat dukungan sepenuhnya dari segenap generasi pendahulu mereka untuk menentukan sendiri dan mencari bentuk dari cara hidup yang lebih terhormat serta beradab.
Karena itu, tugas dan kewajiban mulia generasi muda – khususnya mahasiswa untuk tekun belajar tidak hanya sebatas dari bilik sekolah maupun perguruan tinggi – bisa dipahami bahwa aksi dan unjuk rasa yang mereka lakukan – sebagai pekerjaan ekstra yang mengambil alih peran dan tugas parlemen untuk menyuarakan dera dan derita rakyat – telah terbungkam oleh ambisi pribadi, kelompok organisasi partai yang abai pada amanah rakyat.
Oleh arena itu, menunggangi aksi dan unjuk rasa mahasiswa seperti yang semakin kerap dilakukan melalui berbagai cara – pembungkaman, intimidasi, atau semacam upaya untuk membelokkan serta beragam macam iming-iming yang dilakukan sungguh sangat terkutuk, karena akan melahirkan generasi pewaris negeri ini menjadi mandul, tidak produktif dan tidak kreatif serta tidak memiliki rasa tanggung jawab terhadap kelangsungan hidup bangsa dan negara yang baik dan sehat dengan kepribadian yang lebih beradab dari generasi sebelumnya.
Akai dan unjuk rasa mahasiswa – termasuk aktivis kaum pergerakan di Indonesia sepatutnya dapat dipahami sebagai bagian dari rasa tanggung jawab dalam mengambil alih peran parlemen yang mandul – magel – tak menjalankan fungsi, peran dan tugas mulia mereka sebagai wakil rakyat yang mengemban amanah mulia yang telah diperjanjikan juga dalam konstitusi serta ikrar kemerdekaan bangsa yang harus dan wajib untuk diwujudkan demi dan untuk kesejahteraan bersama, bebas dari segenap bentuk penjajahan dan kemiskinan serta kebodohan.
Kendati realitasnya, era Indonesia emas kembali dipompakan setelah seabad kemerdekaan di diproklamasikan pada 1945 – 2045. Karena itu memenggal idealisme para mahasiswa dengan memberi sogokan, menunggangi aksi dan unjuk rasa yang seharus tidak dilakukan – karena terpaksa dan dipaksa oleh realitas parlemen yang bisu dan membungkam, cari aman – adalah pengkhianatan terkeji yang patut dikutuk sampai tujuh turunan, karena cuma melahap duit rakyat dengan birahi keserakahan yang tak terampunkan.
Sebab tugas utama mahasiswa untuk mengembangkan potensi dirinya melalui lembaga pendidikan terpaksa dan dipaksa untuk membagi perhatian dan kepedulian terhadap tata kelola negara dan bangsa yang cenderung semakin rusak akibat pembiaran terhadap perilaku korup, penyalahgunaan wewenang serta budaya mumpung untuk memperkaya dan melanggengkan kekuasaan tanpa mengindahkan tata etika dan moral yang patut dijaga dengan kecerdasan dan kesadaran spiritual untuk mendekatkan diri dengan Tuhan.
Dalam konteks inilah Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai sila dari Pancasila menjadi omong kosong, seperti apa yang dilakukan oleh BPIP (Badan Pembinaan Ideologi Pancasila) yang cuma ikutan melahap gaji buta dalam nilai yang tidak Pancasilais bila dibandingkan dengan Upah Minimun Regional kaum buruh Indonesia yang terus dibiarkan seperti sapi perahan.
Karena itu, sikap nyinyir terhadap Orde Baru yang menjalankan program BP7 (Badan Pembinaan Pendidikan Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) yang justru dikerdilkan oleh BPIP dengan mengajar cara baris berbaris Pasukan Paskibraka (Pasukan Pengibar Bendera Pusaka) yang hanya dilakukan oleh segelintir remaja dari berbagai daerah untuk memeriahkan dan memberi kesan sakral pada perayaan peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia.
Sementara etika, moral dan akhlak jutaan warga bangsa Indonesia – terutama pejabat publik yang harus dan menata negeri ini agar bisa lebih baik, bersatu, bisa lebih beradab, lebih lebih adil serta sejahtera – justru semakin rusak di semua sektor dan bidang pekerjaan yang harus dijaga, dirawat dan dibangun agar dapat lebih baik, lebih manusiawi, dan lebih religius – cerdas dan berbobot spiritual, karena tak cukup cerdas intelektual – hingga sungguh bisa lebih beradab. (Rilise – Jacob Ereste Ketua Dewan Pembina Atlantika Institut Nusantara dan penulis freelance untuk berbagai media)






